Jalaluddin Rumi pernah bilang, “Seekor burung yang duduk di atas pohon tidak akan pernah takut rantingnya patah, karena kepercayaannya bukan pada cabang dahannya, tetapi pada kemampuannya untuk terbang.”
Jika direnungkan ucapan Rumi, sangat sesuai dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Banyak dari kita yang hidupnya masih bergantung pada “ranting” entah itu orang lain, keadaan, atau bahkan hal-hal sepele yang bikin kita merasa aman.
Contohnya nih…
Ada yang tidak berani keluar rumah tanpa make up lengkap, karena takut dibilang “kok pucat sih?”
Ada juga yang galau berat karena WA-nya cuma dibaca tapi tidak dibalas (padahal isinya cuma “lagi apa?”).
Atau yang paling klasik: ngerasa dunia mau runtuh cuma karena saldo e-wallet tinggal empat ribu.
Padahal Rumi bilang kalau kita ini bukan rantingnya tapi burungnya. Artinya, sumber kekuatan kita bukan dari hal-hal di luar diri kita, bukan dari validasi, bukan dari jumlah likes, bukan dari siapa yang tetap tinggal, tapi dari keyakinan bahwa kita bisa terbang sendiri.
Ranting atau dahan dalam hidup kita bisa patah kapan aja. teman bisa berubah, pacar bisa pergi, HP bisa rusak (dan ternyata semua foto nggak sempat di-backup). Tapi kalau kita punya kemampuan buat “terbang” alias bangkit, beradaptasi, dan tetap jalan meski sendirian maka hidup kita tidak akan terasa seburuk itu.
Bayangin kalau burung cuma duduk di satu ranting seumur hidupnya. Begitu rantingnya patah, dia jatuh dan panik, padahal sebenarnya dia punya sayap. Nah, kadang kita juga begitu: udah dikasih kemampuan buat terbang, tapi malah sibuk nangis lihat ranting yang patah.
Jadi kalau nanti kamu kehilangan sesuatu entah itu barang, orang, atau kesempatan. Ingat saja, ranting boleh patah, tapi kamu masih punya sayap. Dan siapa tahu, dengan patahnya ranting itu, kamu justru belajar terbang lebih tinggi dari sebelumnya. Selamat menyeruput kopi kalian kawan 🙂
