Kalau dengar kata pelayan, kebanyakan orang langsung mikirnya “kerja di restoran” atau “bawain pesanan orang.” Padahal, tanpa sadar, kita semua ini pelayan, cuma beda siapa yang dilayani dan caranya saja.
Melayani itu wajib, bukan cuma kerja. Coba bayangin kalau semua orang berhenti melayani; ojek online mogok, kasir minimarket mogok, barista ngambek karena pelanggan nggak hafal pesanan sendiri. Mungkin dunia bisa berhenti berputar, bro!
Melayani itu bukan soal posisi atau jabatan. Itu soal tanggung jawab dan hati. Kita butuh orang yang mau melayani supaya hidup bisa jalan normal. Bahkan, dalam hal kecil seperti menyapa orang dengan ramah atau bantu teman yang lagi susah, itu pun bentuk pelayanan.
Jadi, jangan mikir melayani itu pekerjaan kecil. Tanpa pelayanan, nggak ada sistem yang bisa bertahan.
Sering banget orang merasa rendah kalau disebut “pelayan”. Padahal, di balik kata itu ada nilai yang sangat besar yaitu kerendahan hati dan empati. Pelayan sejati itu bukan cuma yang kerja di restoran atau hotel. Tapi juga anak yang bantu orang tuanya di rumah, orang tua yang capek kerja demi keluarganya, pekerja yang bantu pelanggan dengan sabar dan bos yang tidak gengsi turun tangan bantu timnya.
Jadi, siapa pun bisa jadi pelayan, bahkan yang punya jabatan tinggi sekalipun. Justru, pelayan yang tulus itu jauh lebih keren daripada orang yang cuma mau dilayani.
Kalau dipikir-pikir, semua manusia sebenarnya sedang melayani sesuatu. Ada yang melayani keluarga, pekerjaan, impian, atau bahkan Tuhan. Karena di balik setiap aktivitas kita, selalu ada niat untuk memberi manfaat dan itu inti dari pelayanan.
Melayani bukan berarti kamu rendah. Justru di situ letak kemuliaannya. Dalam banyak ajaran agama pun, melayani sesama itu bentuk ibadah. Jadi, semakin tulus kamu melayani, semakin tinggi nilai dirimu di hadapan Tuhan dan manusia.
Melayani itu butuh keahlian, bukan sekadar senyum plastik dan ucapan, “Ada yang bisa dibantu, Kak?” Seni melayani adalah gimana bikin orang lain merasa dihargai. Kadang, cukup dengan sabar mendengarkan atau memberi perhatian kecil, kamu udah bikin hari seseorang lebih baik.
Dan ya, melayani itu memang butuh latihan sabar. Kayak petugas call center yang tetap ramah walau dimarahin pelanggan karena “sinyalnya hilang padahal paketnya abis.” Itu kan tingkat kesabaran level dewa.
Percaya nggak, melayani orang lain dengan tulus itu bisa bikin hati lebih tenang. Karena saat kita memberi, sebenarnya kita sedang menerima ketenangan, makna, dan kadang… kopi gratis dari orang yang kamu bantu (kalau beruntung).
Melayani bukan berarti kamu lebih rendah, tapi kamu memilih jadi orang yang bermanfaat. Dan itu jauh lebih bernilai daripada sekadar jadi “orang penting.” Hidup ini bukan tentang siapa yang dilayani, tapi siapa yang mau melayani dengan tulus. Karena pada akhirnya, semua orang adalah pelayan untuk keluarga, pekerjaan, sesama, dan Tuhannya.
Jadi, jangan malu disebut pelayan. Malu tuh kalau hidupnya cuma nunggu dilayani tapi nggak pernah mau membantu siapa pun.
Layanilah dengan hati, bukan gengsi. Karena dunia ini akan jadi tempat yang lebih hangat kalau kita semua mau melayani, meski cuma lewat hal-hal kecil dan sederhana.
Jika telah selesai melayani jangan lupa menyeruput secangkir kopi hangat mu kawan!!!


