Ahmad Wahib yang dikenal sebagai pemikir dan pembaharu Islam dan juga wartawan Tempo pernah berkata “Kebanyakan orang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan harga diri.”
Menyimak kutipan tersebut sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah dan tidaklah menjadi sesuatu yang aneh di negeri +62 tercinta ini, ketakutan akan hilangnya jabatan mengalahkan rasa takut terhadap gempa bumi, ataupun tsunami. Bahkan rasa takut itu sering kali jauh lebih besar daripada takut akan kehilangan harga diri.
Padahal, harga diri itu sepeti napas yang gak kelihatan, namun sangat penting. Sedangkan jabatan hanya “kursi pinjaman” yang bisa ditarik kapan saja begitu masa sewanya habis. Tapi entah kenapa, banyak manusia yang rela mengorbankan harga dirinya demi mempertahankan kursi pinjaman itu.
Lihat saja di berita, media sosial, bahkan obrolan warung kopi. Ada yang mati-matian membela diri meskipun jelas salah, asal tetap terlihat “terhormat”. Ada juga yang mendadak jadi pahlawan kesiangan ketika masa jabatannya mau habis, biar namanya masih nongol di spanduk dan headline berita.
Kalau ditanya, “Kenapa begitu, Pak?”
Jawabannya mungkin sederhana:
“Kalau saya gak di situ lagi, siapa yang hormat sama saya?”
Nah, di situ letak masalahnya. Banyak orang menggantungkan harga dirinya pada jabatan, bukan pada dirinya sendiri. Padahal, jabatan itu seperti baju dinas, dipakai saat kerja, dilepas saat pulang. Tapi sayangnya, banyak yang kelupaan, akhirnya tidur pun masih pakai baju dinas.
Fenomena lain yang menarik: begitu seseorang turun jabatan, mendadak semua orang di sekitarnya juga ikut “turun”. Telepon sepi, pesan tidak dibalas, dan undangan acara mendadak “nyasar” ke orang lain. Tiba-tiba dunia jadi lebih sunyi dari hutan belantara.
Zaman sekarang, harga diri bukan lagi nilai moral, namun semacam barang antik yang menjadi pajangan di lemari kaca. Orang bisa menukar prinsip dengan posisi, menukar integritas dengan proyek, dan menukar suara hati dengan surat keputusan.
Padahal, kalau dipikir pakai logika sederhana: jabatan itu sementara, tapi harga diri bisa dibawa sampai mati. Sayangnya, banyak yang lupa membedakan antara dihormati karena jabatan dan dihormati karena kepribadian. Yang satu bisa hilang besok pagi, yang satunya bisa dikenang selamanya.
Coba renungkan sebentar saja. Kalau besok semua titel, jabatan, dan pangkat dicabut. Siapa diri kita sebenarnya? Apakah kita masih punya keberanian untuk menatap cermin tanpa merasa kecil? Atau justru panik karena cerminnya tak mengenali lagi wajah kita?
Bisa jadi, yang kita jaga selama ini bukan kehormatan, tapi ilusi tentang kehormatan. Dan yang kita pertahankan bukan harga diri, tapi akses ke ruang VIP.
Padahal, tidak ada jabatan yang abadi. Yang abadi adalah bagaimana kita dikenang setelah jabatan itu hilang.
Karena pada akhirnya, harga diri yang sejati tidak butuh lencana, gaji, atau kursi. Ia cuma butuh keberanian untuk tetap jujur.
Jangan lupa ngopi bro, agar tetap waras…

