Halo kawan-kawan penikmat secangkir kopi tanpa pemanis
Cerita ngopi kita kali ini membahas sedikit tentang Manusia yang lupa menjaga Kemanusiaannya. Kenapa memakai kata “lupa”, bro?
Kenapa tidak langsung bilang saja Manusia yang tidak menjaga Kemanusiaannya.
Bukankah lupa itu sifat alami manusia dan dalam Al-Qur’an juga menyebut kata manusia berasal dari kata “insan” yang memiliki makna “lupa”. Ok sudah jelas ya
Nah, kembali ke inti cerita ngopi kita kali ini ya bro.
Bahwa menjadi manusia itu otomatis. Begitu kita lahir ke dunia dan memiliki akta kelahiran maka selamat, ente resmi manusia. Namun apakah kita mampu menjaga Kemanusiaan kita? Nah, yang satu ini butuh perjuangan, terutama di dunia kerja modern yang makin mirip Arena MMA tapi ber-AC.
Di kantor, misalnya. Kita semua tahu, tidak ada ujian kemanusiaan paling berat selain saat Pimpinan bilang, “Kita semua keluarga di sini.” Padahal disaat muncul sebuah permasalahan pekerjaan, keluarganya langsung amnesia massal dan upaya menyelesaikan masalah tersebut layaknya keluarga sirna. Atau ketika rekan kerja terpaksa lembur sendirian, dan yang lain pura-pura sibuk di chat sambil ngetik “maaf ya bro, aku tidak bisa bantu karena ada urusan keluaga” padahal sedang santai sambil menyeruput kopi.
Menjaga kemanusiaan di dunia kerja berarti masih bisa merasa iba, meski target belum tercapai. Masih bisa jujur, meski semua orang sibuk cari jalan pintas. Dan yang paling berat: masih bisa tersenyum tulus ke bos yang suka bilang, “Kamu itu aset berharga perusahaan,” tapi ente hanya dijadikan “sapi perahan” tanpa memikirkan karir ente.
Kadang kita lupa, kantor bukan sekadar tempat cari nafkah, tapi juga tempat kehilangan empati kalau kita tidak hati-hati bro. Ada orang yang dulu lembut, tapi setelah naik jabatan, jadi lupa cara bilang “terima kasih.” Ada pula yang tadinya rajin bantu teman, tapi sekarang cuma bantu bikin suasana tegang dengan senjata pamungkas bernama mutasi.
Menjadi manusia itu takdir dan semua orang bisa. Namun menjaga kemanusiaan, apalagi di tengah rapat, deadline, dan politik kantor yang lebih rumit dari drama Korea, itu pilihan yang butuh keberanian, kawan.
Jadi, kalau ente masih bisa jujur, bisa peduli, bisa menolak jadi penjilat bersertifikat, selamat.
Ente bukan hanya manusia karena lahir sebagai manusia, tapi karena memilih untuk tetap manusiawi di tengah dunia kerja yang makin tidak masuk akal.
Karena pada akhirnya, bukan jabatan yang bikin kita dihormati. Yang membuat kita layak disebut manusia adalah ketika kita masih punya hati. Jangan lupa ngopi bro, agar tetap waras dan selalu ingat kemanusiaan.
