Jejak Seduh Alam
  • Home
  • Adventure
  • Omon-Omon
  • Travel Tips
  • Videos
No Result
View All Result
Seduh Alam
  • Home
  • Adventure
  • Omon-Omon
  • Travel Tips
  • Videos
No Result
View All Result
Jejak Seduh Alam
No Result
View All Result
Home Omon-Omon

KOPI, PENUMPANG DAN SUPIR

by Seduh Alam
17/10/2026
0 0
ritual minum kopi

ritual minum kopi

Pagi itu kopi baru saja siap diseduh, masih panas dan aromanya begitu harum serta menenangkan pikiran. Namun belum sempat diseruput, seorang kawan membuka obrolan:

“Bro, dunia kerja itu sebenarnya mirip naik bus.”

Saya menyeruput kopi pelan-pelan dan bertanya.“Kenapa?”

“Karena di dalam bus ada dua jenis penumpang. Ada yang naik dari terminal, ada yang naik di tengah jalan.”

Wah… kalau sudah begini, biasanya kopi cuma pembuka. Setelahnya pasti ada yang mau disindir.

Penumpang jenis pertama sudah ada sejak awal perjalanan. Mereka datang ketika mesin bus belum panas, AC belum dingin, kursi masih berdebu, dan sang supir masih mencari kunci. Dalam dunia kerja, mereka adalah orang-orang yang ikut merasakan perusahaan sejak masa sulit.

Mereka pernah mengejar target ketika fasilitas belum lengkap, pernah lembur ketika sistem belum sempurna, dimarahi karena target tidak tercapai, disuruh “bersabar dulu, perusahaan sedang berproses.” Pokoknya kalau perusahaan punya album kenangan, wajah mereka mungkin ada di halaman pertama.

Namun, setelah bus mulai bagus, mesin semakin sehat dan perjalanan semakin nyaman, mereka tetap duduk di kursi yang sama. Ketika mereka bertanya:

“Pak, kapan saya bisa duduk di depan?” Jawabannya sangat korporat:

“Sabar. Semua ada prosesnya.” Kalimat sakti, bisa tahun ini atau lima tahun lagi.

Bus berhenti, naiklah seorang penumpang baru dengan pakaian yang rapi, senyumnya yang ramah serta mungkin juga pengalamannya bagus. Saat penumpang itu naik tidak terjadi masalah karena perusahaan memang membutuhkan orang baru. Yang menjadi menarik adalah ketika baru beberapa kilometer perjalanan, tiba-tiba terdengar suara dari depan:

“Pak, duduk di sini saja.”

Lho… yang dari terminal langsung saling pandang. Kok bisa? Ternyata penumpang tersebut sudah kenal dengan sang supir.

Saya berhenti menyeruput kopi.

Nah… ini sudah masuk pembahasan sensitif. Tapi jangan salah, karena kenal sopir bukan dosa. Yang menjadi masalah adalah kalau kedekatan dianggap kompetensi, loyalitas dianggap keahlian, dan akses dianggap prestasi.

Baru naik di kilometer 50, tapi kursinya sudah di depan. Sementara yang ikut mendorong bus ketika mogok di kilometer 10 masih duduk dekat pintu belakang. Ketika bertanya kenapa, jawabannya:

“Manajemen sudah mempertimbangkan secara objektif.”

Objektif memang kata yang indah, terutama kalau kita tidak bertanya objeknya siapa.

Tapi tunggu dulu, bukan berarti orang yang naik dari terminal otomatis berhak duduk di depan. Lama bekerja tidak selalu berarti paling kompeten. Ada juga penumpang yang sudah ikut dari terminal, tetapi sepanjang perjalanan kerjanya cuma tidur. Begitu bus hampir sampai tujuan, bangun paling dulu, lalu berkata:

“Alhamdulillah, perjuangan kita berhasil.” Padahal dari tadi mendengkur.

Jadi masalahnya bukan lama atau baru, masalahnya adalah bagaimana kursi dibagikan. Kalau kursi depan diberikan karena kemampuan, silakan. Kalau diberikan karena prestasi, bagus. Kalau diberikan karena perusahaan memang membutuhkan keahliannya, kita harus mendukung.

Tapi kalau kursi depan diberikan hanya karena dekat dengan supir, maka jangan heran kalau suatu hari isi bus lebih sibuk mencari perhatian supir daripada membantu perjalanan. Orang mulai berpikir:

“Buat apa capek-capek belajar mengemudi?”

“Buat apa meningkatkan kompetensi?”

“Buat apa bekerja sampai malam?”

“Lebih baik cari tahu sopir biasanya ngopi di mana.”

Nah, ini BAHAYA!!!

Karena ketika organisasi lebih menghargai kedekatan daripada kemampuan, orang-orang pintar akan belajar satu hal:

ternyata untuk maju, yang perlu ditingkatkan bukan kompetensi… tetapi jarak kursi dengan supir.

Saya melihat kopi yang tinggal setengah. Kopi yang enak tidak pernah bertanya siapa yang menuangkannya, ia dinilai dari kualitasnya.

Begitu juga manusia dalam organisasi. Seharusnya yang dinilai adalah kemampuan, integritas, kontribusi, dan hasil kerjanya. Bukan siapa yang dikenalnya. Bukan siapa yang sering dia temani.

Apalagi siapa yang paling rajin tertawa ketika pimpinan membuat lelucon yang sebenarnya tidak lucu.

Karena kalau semua orang sibuk mendekati sopir, siapa yang menjaga mesin, siapa yang membaca peta, siapa yang memastikan bahan bakar cukup dan siapa yang mengingatkan kalau ternyata bus sedang menuju arah yang salah.

Pada akhirnya, perusahaan bukan soal siapa yang naik dari terminal atau siapa yang naik di tengah jalan. Bukan pula siapa yang duduk paling dekat dengan supir. Yang terpenting adalah apa kontribusinya selama perjalanan. Yang lama jangan merasa memiliki bus dan yang baru jangan merasa memiliki supir.

Dan supir jangan memilih penumpang hanya berdasarkan siapa yang paling pandai memuji cara mengemudinya. Karena tujuan organisasi bukan membuat semua orang dekat dengan supir. Tujuannya adalah memastikan bus sampai ke tujuan dengan selamat.

Saya tetap menyeruput kopi yang tersisa. Kawan saya tersenyum lalu bertanya:

“Kalau di tempat kita, yang cepat dapat kursi depan biasanya karena kompetensi atau karena kenal supir?”

Saya meletakkan cangkir.

“Sudahlah, Bro…”

“Kita pesan kopi lagi saja. Karena kopi lebih penting dari pada supir dan penumpang.” ☕

ShareTweet
Previous Post

Panduan Hidup Tenang: Pilih “Benar” atau Pilih “Aman”?

Seduh Alam

Seduh Alam

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Seduh Alam

Copyright © 2025 Seduh Alam

No Result
View All Result
  • Home
  • Adventure
  • Omon-Omon
  • Travel Tips
  • Videos

© 2025 Seduh Alam.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In